Belajar Rida Setiap Saat

04 December 2019 - Kategori Blog

- buku aa gym - mqs publishing

Saudaraku, sesungguhnya orang merasa tidak bahagia, bahkan menjadi stres, itu bukan karena kenyataan yang terjadi. Melainkan, karena ia tidak rida dengan kenyataan tersebut. Pun bukan karena tidak bisa menerima, tapi karena tidak mau menerima takdir yang ada. Padahal jika mau, niscaya Allah akan memampukannya. Jadi, rida-lah terhadap yang sudah terjadi.

Kita harusnya yakin bahwa Allah SWT merancang jalan kehidupan ini tidak monoton. Karena jika monoton, tentu kita akan merasa jemu. Allah merancang jalan kehidupan ini menjadi berwarna, karena keindahan hidup justru datang dari aneka warna kehidupan tersebut.

Ada senang ada susah, ada gembira ada sedih, ada dipuji ada dicaci, ada sehat ada sakit, ada didekati ada dijauhi, dan sebagainya. Semua menjadi penuh makna dan indah jika disikapi dengan tepat. Indahnya penglihatan dengan adanya warna-warni. Indahnya yang didengar karena ada suara yang berbeda dan naik turun nada. Begitu pula dalam kehidupan, akan indah dengan aneka kejadian yang beragam.

Misalkan kening kita tertimpa genting yang jatuh, tahanlah diri dari mengatakan, “Saya tak terima… Saya tak terima ..!!” Bagaimana mungkin tidak mau terima, sedangkan ‘tanda terima’ di kening sudah jelas, benjol kemerah-merahan.

Menyikapi keadaan seperti demikian, sebaiknya gunakan rumus nasi jadi bubur. Jika ingin memasak nasi, namun yang terjadi malah menjadi bubur, tidak perlu sibuk berkeluh kesah sambil marah-marah, karena itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Terimalah keadaan sambil segera fokus mencari krupuk, suwiran daging ayam, bawang goreng, seledri, kecap, sambal. Jadikanlah bubur ayam yang spesial, niscaya jauh lebih nikmat.

Siapa pun yang hanya sibuk menyesali nasi jadi bubur dan sibuk menyalahkan pihak lain, niscaya tidak punya waktu dan perhatian yang cukup untuk mencari aneka bahan agar bubur itu menjadi bubur ayam spesial. Ia hanya fokus pada masalah, bukan pada cara mengatasi masalah.

Mari, dengan sadar kita berlatih menerima takdir yang ada, sembari berikhtiar agar bisa bertemu dengan takdir lain yang lebih baik. Insya Allah jika hal ini kita yakini di lubuk hati, Allah pasti tidak menyia-nyiakan kesebaran kita itu. Ia tentunya akan mengganjarnya dengan balasan pahala berlipat-lipat.

Oleh : (KH. Abdullah Gymnastiar)

sumber : www.daaruttauhiid.org

 
Chat via Whatsapp